Begini Program Rumah Sakit Tanpa Kelas ala Appi

MAKASSAR, LIPUTAN8.COM — Calon Walikota Makassar, Munafri Arifuddin (Appi) mencanangkan 8 program prioritas dibidang kesehatan. Salah satunya adalah program Pembangunan Rumah Sakit tanpa kelas.

Program ini bertujuan untuk menciptakan pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan tidak diskriminatif. Terutama bagi masyarakat miskin dan pengguna BPJS kelas 3.

“Problem rumah sakit hari ini adalah kamar untuk kelas 3 itu sangat sedikit. Sehingga ketika masyarakat yang tidak mampu berobat, mereka ditolak dengan alasan kamar kelas 3 full. Muncullah istilah tambah sedikit supaya bisa dirawat di kelas 2 atau 1,” keluh Appi dalam diskusi bertema “Bedah Program Kesehatan Munafri Arifuddin” yang digelar Komunitas Wartawan Sulawesi Selatan di Cafe Res_Publica, Pettarani, Makassar, Minggu (15/3/2020).

Rumah Sakit tanpa kelas, jelasnya, adalah rumah sakit yang hanya menyediakan satu jenis kamar, yakni kamar kelas 3 namun dengan fasilitas sarana dan prasarana serta pelayanan yang optimal atau melebihi standar kelas 3 pada umumnya. “Boleh disebut kelas 3 plus,” beber Appi.

Pembangunan dibidang kesehatan juga tidak parsial, namun akan dilakukan secara holistik dan komprehensif. Olehnya tindakan preventif atau pencegahan penyakit akan lebih diutamakan melalui edukasi masyarakat dan kebijakan lingkungan.

“Di setiap kelurahan juga minimal ada 2 dokter yang bersiaga on call. Untuk menjemput warga sakit agar tidak lama terbiarkan dan membawanya ke rumah sakit. Setelah pasien keluar dari rumah sakit, juga harus juga ada dokter yang mengunjungi langsung ke pasien tersebut ke rumahnya untuk memastikan bahwa benar dia sudah sehat,” lanjut Appi.

Sementara bagi warga di Kecamatan Sangkarrang, juga akan disiapkan puskesmas terapung dan ambulance berupa kapal cepat. Termasuk penyediaan apotik di setiap pulau agar warga pulau tidak perlu mengeluarkan biaya ke kota, hanya sekedar untuk membeli obat.

Sistem Rumah Sakit juga dicanangkan terintegrasi secara digital. Sehingga masyarakat tidak perlu lagi antri berjam-jam lamanya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di poliklinik.

“Di Makassar kita juga kekurangan tenaga medis, sehingga Pemkot harus memelihara ini. Minimal kita harus harus membiayai para dokter untuk mengambil sekolah spesialis. Dan harus ada jaminan mereka akan kembali bekerja melayani warga Kota Makassar,” imbuh Appi. (*)