Bersama Tokoh Agama, FPK Gelar Diskusi Antisipasi Wabah Penyakit Kebencian

MAKASSAR, LIPUTAN8.COM – Puluhan tokoh agama dan masyarakat berbaur di ruang Sipakelabbi, Kantor Balai Kota Makassar, Senin, (10/02/2020)

Puluhan tokoh agama tersebut mengikuti pertemuan Fokus Group Diskusi (FGD) yang diselenggarakan oleh Forum Pembauran Kebangsaan Kota Makassar.

Kegiatan ini di pimpin langsung Rasyid Palumulo SH MH, salah seorang pengurus (anggota) FPK Kota Makassar.

Dalam kesempatan itu Rasyid Palamulo menyampaikan bagaimana mengantisipasi wabah penyakit kebencian, baik kebencian atas nama agama maupun etnis. Apalagi baru-baru ini, muncul aksi pengrusakan rumah ibadah di Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

“Jadi FGD ini bertujuan untuk mengantisipasi virus, bukan virus korona sebagaimana yang marak diberitakan di jejaring media sosial dan TV, tapi virus kebencian, baik yang mengatasnamakan agama maupun suku,” Kata Rsyid.

Tidak hanya itu, Rasyid jugFPK a mengingatkan, diskusi tersebut tidak bertujuan untuk memperdebatkan akar masalah dan penyebab konflik, tapi bertujuan untuk mencari solusi serta langka konkrit yang harus dilakukan untuk kemudian diusulkan ke Pemerintah Kota Makassar.

Senada dengan itu, Pendeta Daniel Sofamena, dalam pengantarnya menyampaikan bahwa forum diskusi tersebut sengaja menghadirkan tokoh agama dan masyarakat guna mengatasi dampak virus kebencian dan persoalan segregasi sosial di Kota Makassar. Menurutnya, kehadiran tokoh agama dan masyarakat di FGD itu sangat penting, sebab tidak jarang konfik sosial terjadi disebabkan persoalan sentimen agama dan etnis.
“Tokoh agama dan masyarakat adalah ujung tombak masyarakat. Mereka inilah yang lebih paham kondisi sosial masyarakat kita. Makanya itu, lewat forum ini, kami dari FPK ingin mendengar dan menerima saran serta usulan konkrit dari bapak-ibu sekalian untuk mengatasi sekat sosial di masyarakat kita yang berpotensi memicu lahirnya konflik sosial. Karena ini adalah FGD, maka tentu semua peserta yang hadir adalah narasumber,” jelas Pendeta Sofamena.
Tampil sebagai pembicara pertama, Triyo Sumaryo, akademisi yang juga tokoh masyarakat Kota Makassar. Ia menyampaikan, sejatinya pemerintah, tokoh agama dan masyarakat bisa bersinergi membendung potensi konflik yang setiap saat bisa muncul. Apalagi saat perayaan moment-moment tertentu seperti moment politik, natal, tahun baru dll.

Meski sejauh ini, Kota Makassar menurutnya masih terlihat aman dan adem-adem saja, namun tidak menutup kemungkinan konflik sosial bisa saja terjadi besok atau lusa. Makanya itu, ia pun menyarankan agar pemerintah, tokoh agama dan masyarakat tetap siap siaga 2X24 jam memantau kondisi sosial di Makassar. (**)