Berbagai Pujian dalam Tasyakuran dan Peluncuran Buku IAS

MAKASSAR, LIPUTAN8.COM — Pujian dilontarkan dari berbagai tokoh masyarakat kepada sosok Mantan Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin. Walaupun pernah mendekam di penjara, namun sosoknya masih dikenal sebagai orang yang baik.

Melalui acara Tasyakuran yang dirangkai dengan peluncuran buku berjudul ‘Ilham Bagi Sosok IAS’, beberapa tokoh politik dan agama memuji IAS sapaannya, sebagai sosok yang lekat dengan ketulusan.

Acara tetsebur berlangsung di Hotel Novotel Makassar, Senin (16/9).

Mantan Wakil Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal mengatakan jika IAS merupakan orang baik. Bukan hanya baik, tapi berusaha menyenangkan siapa pun. Bagi Daeng Ical sapaannya, Ini tidak mudah dan membutuhkan energi yang super besar.

“Pak Ilham, baik. Saat menjadi pejabat, saat menjalani ujian dan saat kembali ke masyarakat bisa menjalankan semua itu dengan sedemikian egaliter. Dan itu semua karena bersumber dari energi ‘positif looking’ dalam melihat apa pun,” katanya.

Sementara salah satu tokoh agama, Ust Das’ad Latif mengatakan, dalam diri IAS, lekat dengan sikap ketulusan, sombere, rendah hati dan akrab kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan.

Das’ad menjelaskan, kedekatan Pak Ilham dengan para juru dakwah adalah keramahan yang luar biasa. Bahkan saat beliau menjabat sebagai wali kota, Das’ad menerangkan jika perhatiannya kepada para mubaligh tak terlupakan hingga sekarang.

“Ujian-ujian yang dialami beliau, menjadikan beliau lebih matang, menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Semoga Pak Ilham istiqamah,” ujar ustads kondang ini.

IAS pun menjawab pujian-pujian itu dengan santun. Didepan ratusan koleganya, ia mengucapkan banyak terima kasih. Bahkan IAS sempat meneteskan air mata saat mengungat keluarga beserta para sahabatnya, tidak melupakan dirinya walaupu saat sedang ditimpa masalah.

Mengenai buku yang dikuncurkan, IAS menerangkan bahwa buku ini merupakan catatan hidup yang mengalir dari dirinya. Jejak jejaknya bersama masyarakat dan aparat kota ini, menggores tajam sampai hari ini.

Meski kisah hidupnya menjadi penuh warna karena di akhir jabatan tersandung perkara hukum, IAS berjuang menggali hikmah dari semua ini.

“Saya, anak-anak serta para sahabat, serta kesaksian jurnalis media, memadati halaman-halaman buku ini. Pembaca dapat hanyut dalam perasaan galau dan pasrah, atau pembaca memilih tetap menyadari makna-makna di balik semua ungkapan dan peristiwa-peristiwa yang menimpa,” jelasnya. (*)