380 KK di Pemukiman Desa Nelayan Untia Krisis Air Bersih

LIPUTAN8.COM — Pemukiman nelayan Untia, kelurahan Untia kecamatan Biringkanaya, Makassar dilanda krisis air bersih. Kondisi tersebut dialami sejak dua tahun terahir ini.

Akibatnya 380 KK yang bermukim di RW 1, RW 2 dan RW 5 kampung nelayan Untia, harus membeli air bersih dari luar untuk memenuhi kebutuhan hari-harinya.

Dengan kondisi tersebut, warga nelayan Untia dipaksa merogoh koceh yang tidak sedikit untuk membeli air bersih. Mereka membeli air bersih Rp500 hingga Rp800 ribu per bulan. Padahal masih banyak kebutuhan lainnya yang mesti mereka penuhi.

Jamrud (48) warga pemukiman nelayan Untia, mengatakan, dalam dua tahun ini, pemukiman nelayan Untia mengalami krisis air bersih. Itu disebabkan air ledeng atau air bersih dari PDAM sudah tidak mengalir ke desa nelayan.

“Sudah dua tahun ini air ledeng tidak mengalir. Sebelumnya itu lancar, dan tidak ada kendala. Saya juga tidak tahu kenapa bisa? Padahal semua warga yang bermukim di desa nelayan, pelanggan PDAM yang tidak pernah menunggak,” kata Jamrud yang juga tokoh masyarakat setempat.

Jamrud menuturkan, selama dua tahun ini, warga membeli air ledeng minimal 1000 liter per hari. Itupun kami harus irit, cukup untuk minum, masak, dan mandi saja. Kalau untuk mencuci dan kebutuhan lainnya kami pakai air yang ada di daerah kami. Meski airnya asin dan berbau.

“Bayangkan pak, setiap tiga hari saya membeli air bersih 1000 liter. Harga air satu mobil Kijang isi 1000 liter itu Rp80 ribu. Kalau dihitung-hitung dalam sebulan bisa sampai Rp800 ribu per bulan hanya untuk air bersih. Padahal kami masih banyak kebutuhan lain, apalagi kami semua adalah masyarakat pesisir, yang tidak memiliki penghasilan tetap,” pungkasnya.

Menurut Jamrud, dahulu semua warga nelayan Untia berlangganan PDAM. Setiap rumah memiliki meteran air. Namun, satu per satu meteran air di rumah-rumah warga dicabut oleh pihak PDAM.

“Iya orang PDAM datang cabut semua meteran airnya warga. Katanya, debit air kurang, susahmi air ledeng mengalir di Untia. Daripada kita membayar beban, lebih baik dicabut saja” ketusnya.

“Kami berharap Pemkot Makassar dalam hal ini pihak PDAM agar mencarikan solusinya. Kami ini warga Makassar juga, yang berhak menikmati air bersih. Kenapa dulu bisa mengalir, sekarang biar menetes juga tidak. Kenapa bisa?,” tuturnya. (Fik)