Dua Pelaku Penyebar “Hoax” Kasus Penculikan Anak di Makassar Ditangkap Polisi

LIPUTAN8.COM, MAKASSAR – Dua pelaku terduga penyebar berita bohong atau Hoax di Media Sosial (Medsos) Facebook terkait informasi penculikan anak berhasil diringkus oleh Unit Cybercrime Ditreskrimsus Polda Sulsel.

Kedua pelaku yang berhasil diamankan adalah Nurmiyati (23) warga Jalan Tinumbu, Kelurahan Layang, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, dan Usman (27) warga Jalan Borong Jambu Galian, Perumahan Antang, Kota Makassar. Keduanya diamankan di rumahnya masing-masing di lokasi berbeda.

Dari informasi yang berhasil dihinpun, Nurmiyati (23), diamankan polisi karena menyebarkan berita bohong penjualan organ tubuh manusia yang belum pasti kebenarannya sehingga membuat keonaran dikalangan masyarakat dengan isi konten “VIDEO NO HOAX Penculikan serta penjualan organ tubuh di pasar gelap, jaga anak kalian baik baik”.

Sementara Usman diamankan, karena juga melakukan penyebaran berita bohong atau Hoax terkait penangkapan pelaku pencurian anak di Kota Makassar. Dalam postingannya di facebook, Usman mengatakan “Pencilikan anak di batua raya!!! Hati2 qi jaga baik2 anak ta!!! Assalamualaikum’batua raya geger tertangkap pencuri anak anak. Menurut pengakuan tersangka. Ada beberapa anggotanya atau kelompok tersebar di makassar. Yg di incar umur 7 tahun kebawah 1 organ tubuh 1 milyar. JAGALAH ANAK ANAKTA KODONG.”

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, penangkapan terhadap terduga pelaku berawal dari hasil patroli Cybercrime Polda Sulsel dan menemukan akun facebook yang menyebarkan berita bohong yang belum pasti kebenarannya. Sehingga unit Cybercrime Polda Sulsel langsung melakukan penyelidikan dan meringkus kedua pelaku di rumahnya masing-masing.

“Pelaku memposting konten berita bohong yang belum pasti kebenarannya yang dapat menerbitkan keonaran dikalangan masyarakat,” ucap Dicky Sondani di Mapolda Sulsel, Selasa (6/11/2018) siang.

Atas aksi kedua pelaku kata Dicky, mereka di jerat dengan pasal 15 UU. RI. No. 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan ancaman hukuman dua tahun penjara.

“Meski telah menyebarkan berita bohong, kedua pelaku masih belum dilakukan penahanan. Karena kedua pelaku hanya terancam pidana hukuman penjara maksimal dua tahun,” jelas Dicky Sondani.

 

 

 
Penulis : Tejho
Editor : Andi Afdal