Pelaku Pencabulan Korban Bencana Gempa Palu Terancam 12 Tahun Penjara

LIPUTAN8.COM, MAKASSAR – Pelaku pencabulan terhadap SH (7) bocah perempuan korban pengungsi gempa dan Palu, Sulawesi Tengah terancam hukuman penjara 12 tahun .

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kasubag Humas Polrestabes Makassar, Akp Diaritz Fellei. Ia mengatakan, tersangka di jerat dengan pasal 81 Jo 76D, atau pasal 82 Jo 76E UU RI Nomor 17 tahun 2016, tentang penetapan perpu tahun 2016, atas perubahan ke Dua UU RI no.23 tahun 2002 perlindungan anak.

“Pelaku diancam dengan hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 12 tahun penjara,” tegas Diaritz, Rabu (17/10/2018) siang tadi.

Dia menyebutkan bahwa MI merupakan pelaku tunggal yang melakukan pencabulan terhadap korban di belakang rumah kosong, di Bumi Permata Sudiang (BPS), Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Selasa (16/10/2018) kemarin.

“Dia adalah pelaku tunggal. Pelaku mengakui perbuatannya telah mencabuli korban sebanyak dua kali ,” tambahnya.

Kejadian tersebut berawal, pelaku menghadang korban yang baru saja keluar dari rumahnya bersama rekannya bernama Bintang. Saat itu, pelaku meminta korban untuk mengantarkannya sehingga pelaku menyuruh rekan korban Bintang untuk pulang.

Korban pun mengantar pelaku, namun, ditengah perjalanan pelaku langsung membawa korban ke belakang rumah kosong sehingga ditempat tersebut pelaku melancarkan aksi bejatnya.

“Korban tak berdaya karena mulutnya ditutup, sehingga aksi bejat pelaku dilakukan dengan mencabuli korban sambil berjanji akan mengantarkannya pulang ,” terangnya.

Setelah melakukan aksinya yang tak senonoh tersebut, pelaku langsung mengantarkan korban pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, korban bertemu dengan pamannya dan kemudian menangis sambil menceritakan apa yang terjadi. Seketika itu, paman korban bersama warga sekitar langsung mengejar pelaku dan berhasil mengamankannya.

“Korban telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk dilakukan visum. Hasilnya selaput darahnya robek. Kita koordinasi dengan pihak P2TP2A atau TRC untuk siapkan pendampingan dan psikolog kepada korban,” pungkasnya.

 

 

Penulis : Tejho
Editor : Rafa