Minta Sumbangan Untuk Korban Gempa-Tsunami di Sulteng, Petani Ini Ditangkap Polisi

LIPUTAN8.COM, MAKASSAR – LR alias MR pria Paruh Baya yang juga berprofesi sebagai petani diamankan Unit Cybercrime Polrestabes Makassar atas keterlibatannya dalam tindak pidana penipuan online dengan memamfaatkan bencana Gempa dan Tsunami yang terjadi di Palu, Donggala dan Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.

LR diamankan polisi di rumahnya yang terletak di Lingkungan Amparita, Kelurahan Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, Selasa (9/10/2018) kemarin.

Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol Wirdhanto Hadicaksono mengungkapkan, penangkapan terhadap pelaku berawal saat adanya laporan dari masyarakat terkait penipuan berkedok permintaan sumbangan untuk korban gempa dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah.

“Tim berhasil menangkap pelaku yang sementara ada di rumahnya. Pelaku melakukan penipuan dengan memamfaatkan bencana gempa dan tsunami di Palu yakni dengan meminta sumbangan kepada masyarakat,” kata Wirdhanto Hadicaksono di Mapolrestabes Makassar, Kamis (11/10/2018) sore.

Wirdhanto Hadicaksono merinci pelaku melakukan aksinya dengan cara mengirim pesan singkat (SMS) lewat Sotfware Caster dimana Sotfware ini dapat mengirim sms secara massal ke ribuan nomor HP dengan loading pengiriman dengan cepat dan meminta sumbangan yang bertuliskan “Tolong bantu keluarga kami korban gempa dan tsunami Palu-Donggala melalui rekening BRI atas nama Risa Ristianti”. Dimana pesan singkat tersebut viral di masyarakat.

“Sebelum melakukan penipuan ini, pelaku terlebih dahulu melengkapi peralatan yang digunakan seperti laptop, modem, rekening tampungan asal Palu-Donggala. Kemudian mengirim SMS secara random,” rinci Wirdhanto Hadicaksono.

Selain mengamankan pelaku, polisi juga menyita barang bukti berupa laptop, Hp, modem, dan beberapa kartu Sim Card berbagai operator seluler.

Sementara itu, dari pengakuan tersangka, ia melakoni kegiatan ini sejak dua Minggu yang lalu dan telah meraup keuntungan atau menarik uang sebanyak Rp 10 Juta. Dan atas perbuatannya, tersangka terancam hukuman penjara paling lama enam tahun atau denda paling banyak Rp 1 Miliar.

 

 
Penulis : Tejho
Editor : Andi Adfal