Bandingkan Pidato Sukarno dengan Jokowi, Inikata Fahri Hamzah

Jakarta,- Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah membandingkan pidato Presiden Joko Widodo di depan relawannya dengan pidato Presiden Pertama Indonesia Sukarno.

Kata Fahri, Sukarno menyebut musuh atau lawan hanya kepada negara lain yang berupaya merendahkan derajat dan martabat Indonesia saat berpidato. Bukan bangsa sendiri yang diposisikan sebagai pihak yang patut dilawan.

Fahri mengutarakan hal tersebut menanggapi pidato Jokowi yang ditujukan kepada relawannya agar tidak takut meladeni jika ada yang mengajak berkelahi.

“Dulu Bung Karno kalau pidato menyebut musuh dam menisbatkan lawan kepada orang asing dan negara-negara yang mengancam bangsa kita,” kata Fahri saat dihubungi CNNIndonesia.com, Minggu (5/7).

Fahri menilai ada perbedaan antara pidato yang sering diucapkan Sukarno dengan pidato Jokowi. Fahri menyayangkan ketika Jokowi mengimbau para relawan agar tidak sungkan melawan bilamana ada pihak yang mengajak berkelahi.

“Sayang sekali kata-kata musuh dan lawan disampaikan Presiden hanya di depan relawan untuk melawan saudara sendiri,” kata Fahri.

Jokowi mengimbau kepada para relawannya untuk tidak mencari musuh saat masa kampanye Pilpres 2019 dimulai. Meski begitu, Jokowi juga ingin para relawan tidak gentar untuk meladeni jika ada yang mengajak baku hantam.

“Jangan membangun permusuhan, jangan membangun ujaran-ujaran kebencian, jangan membangun finah-fitnah. Tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang lain. Tapi kalau diajak berantem juga berani,” kata Jokowi di Sentul International Convention Center, Bogor, Sabtu (4/8).

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono juga menyayangkan imbauan Jokowi yang ditujukan kepada relawannya. Menurut Ferry, ucapan Jokowi justru dapat memotivasi relawannya untuk melakukan kekerasan.

“Membuat keresahan yang menjurus pada penggunaan kekerasan,” ucap Ferry.

Tak jauh berbeda dengan Fahri, Ferry juga menilai imbauan Jokowi tersebut lebih patut jika ditujukan untuk menjaga kewibawaan bangsa di mata negara lain.

Ferry mengatakan imbauan itu lebih bagus karena warga negara memang wajib menjaga nama baik bangsa.

“Tetapi kalau pernyataan itu diarahkan untuk mengadu rakyatnya sendiri itu harusnya presiden ditangkap saja dan diperiksa,” ucap Ferry.

Sumber: cnnindonesia.com