Upaya Perangi Illegal Fishing, Indonesia Dapat Pujian Dunia

LIPUTAN8.COM — Ketegasan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam pemberantasan Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (IUUF) di Indonesia diapresiasi dunia internasional. Setidaknya apresiasi itu disampaikan Dirjen FAO (Food and Agriculture Organization) Jose Graciano da Silva dan Komisioner Uni Eropa untuk Lingkungan, Kelautan, dan Perikanan Karmenu Vella.

Pujian itu disampaikan keduanya ketika Special Event di perayaan Hari Internasional Perlawanan IUUF di Markas Pusat FAO di Viale delle Terme di Caracalla, Roma, Italia, Selasa (4/6). Pujian ini jelas bukan hanya untuk Susi, tapi untuk pemerintah dan bangsa Indonesia. Pujian ini tentu tidak hanya membanggakan para delegasi yang hadir di acara ini, tapi juga bangsa Indonesia. Para delegasi Indonesia yang hadir, antara lain, Dubes RI untuk Roma Esti Andayani, Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilanto Perbowo, Koordinator Staf Khusus Satgas 115 Mas Achmad Santosa, Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Suseno Sukoyono, dan Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi.

Jose, Karmenu dan Susi Pudjiastuti menjadi pembicara dalam acara perayaan Hari Internasional Perlawanan IUUF untuk pertama kalinya itu. Jose mengapresiasi Susi yang berkenan hadir di markas pusat FAO meski jarak Indonesia dan Roma sangat jauh. “Terima kasih atas kehadiran menteri Susi Pudjiastuti,” kata Jose.

“Indonesia adalah partner penting dalam perlawanan illegal fishing bagi FAO,” imbuh Jose yang disambut tepuk tangan para peserta. Dalam acara ini hadir sekitar 250 orang dari berbagai kalangan dan negara.

Jose mendukung sepenuhnya Hari Internasional Perlawanan IUUF ini dan mendorong terus gerakan perlawanan terhadap IUUF. Bagi Jose, IUUF harus diperangi, karena stok ikan di laut harus dijaga demi generasi anak dan cucu di masa mendatang. “Ikan di laut merupakan sumber protein dan nutrisi yang sangat bermanfaat bagi ketahanan pangan di masa mendatang,” kata Jose.

Selain itu, kata Jose, produk kelautan dan perikanan telah memberikan kontribusi yang besar dalam ekonomi masyarakat dan negara. “Karena itu, kita semua harus pastikan bahwa stok ikan tetap terjaga dengan baik dan lingkungan laut kita harus kita pelihara bersama-sama,” ujar dia.

Dalam hal perlawanan IUUF, Jose menyebut Indonesia merupakan salah satu negara yang pertama kali yang berkomitmen dan mengimplementasikan perlawanan terhadap IUUF dengan nyata. “Ibu Susi merupakan orang yang pertama kali melawan kapal-kapal penangkap ikan ilegal,” puji Jose, yang kembali disambut tepuk tangan.

Jose menegaskan FAO telah mengawal pembahasan-pembahasan terkait komitmen-komitmen bersama negara-negara dunia dalam perlawanan IUUF. Pada tahun 1995, FAO telah menyelesaikan draft dalam upaya menghapus praktek IUUF. Setelah itu, FAO juga mendorong negara-negara di dunia melakukan ratifikasi Port State Measurement Agreement (PSMA), sebagai upaya mempersempit para pelaku IUUF mendaratkan hasil tangkapan ikannya. Masih banyak hal lain yang dilakukan FAO, termasuk pelarangan transshipment. (**)

Sumber: kumparan.com