Terungkap, 5 Alasan Mengapa Danny Pomanto Sulit Ditumbangkan

LIPUTAN8.COM, Makassar — Lembaga riset dan pengamat politik ramai-ramai memastikan calon walikota petahana Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto yang berpasangan dengan Indira Mulyasari (DIAmi) akan teramat sulit dikalahkan oleh penantangnya Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi (Appi-Cicu).

Apa saja penyebab pasangan DIAmi berat untuk ditumbangkan oleh pasangan Appi-Cicu? Berikut ulasannya yang telah redaksi kumpulkan dari berbagai sumber.

1. Elektabilitas DIAmi Teramat Tinggi.

Lembaga survei Indeks Politica Indonesia (IPI) merilis hasil survei terbaru terkait peluang kandidat calon walikota dan wakil walikota memenangkan Pilkada Makassar, Rabu (14/03/2018) lalu.

“Elektabilitas pasangan Danny Pomanto-Indira Mulyasari itu berada diangka 64 persen. Sementara pasangan Appi-Cicu baru diangka 19 persen. Selebihnya swing voter (pemilih mengambang). Ini di bulan Februari lalu,” kata Direktur Eksekutif IPI, Suwadi Idris Amir.

Dalam survei yang IPI lakukan pasangan DIAmi memiliki suara elektoral yang ril. Sehingga peluang menang pada Pilwalkot tahun ini sangat terbuka lebar. Sebaliknya Appi-Cicu harus bekerja keras untuk bisa menyaingi calon petahana.

“Karena kalau kita ingin melihat kekuatan data elektoral, kita melihat seberapa besar pemilih fanatik yang dimiliki oleh Danny Pomanto,” kata Suwadi.

2. Danny Unggul Dalam Pengelolaan Isu

Sebagai calon petahana, Danny sudah berpengalaman dalam urusan pemerintahan sehingga mengetahui basis data yang jelas terkait seluruh aspek Pemerintahan Kota Makassar. Tidak hanya tahu, Danny juga mahir dalam mengelola data yang ada menjadi isu-isu yang menarik simpati masyarakat.

“Menurut saya peluang Pak Danny Pomanto sangat tergantung pada kemampuannya dalam menjaga isu dan ritme kampanyenya. Untuk sementara sampai hari ini, Pak Danny Pomanto masih mampu menjaga ritme kampanye dan masih unggul dalam pengelolaan isu,” kata Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus, Sabtu (17/03/2018).

Seperti kebanyakan petahana lain, lanjutnya, Danny juga diunggulkan dengan tingkat popularitas yang memang sudah sangat tinggi dibanding penantang. Olehnya, Danny tak perlu lagi direpotkan untuk memperkenalkan diri secara massif dan mahal seperti yang dilakukan calon penantangnya.

3. Tingkat Kepuasan Publik Tinggi

Direktur Riset Celebes Research Center (CRC) Andi Wahyuddin Abbas mengungkapkan, mayoritas masyarakat Makassar puas dengan kinerja kepemimpinan Danny Pomanto selama menjabat 3,5 tahun terakhir.

Berdasarkan hasil survei CRC pada November 2017, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Walikota Makassar sangat tinggi yakni pada angka 88%. Angka ini adalah yang paling tinggi jika diperbandingkan dengan daerah lain di Sulawesi Selatan.

“Jika masyakarat puas, maka peluang untuk dipilih menjadi semakin besar pula. Hal ini karena biasanya faktor terbuktinya kinerja menjadi salah satu alasan utama pemilih menentukan pilihan, tapi bukan satu-satunya alasan. Keputusan memilih pemilih biasanya merupakan komposit dari banyak faktor,” kata Wahyuddin, Jumat (16/03/2018).

4. Danny Terkesan Dizalimi oleh Parpol dan Penantang

Disaat publik mulai jenuh dengan partai politik, Danny Pomanto menuai simpati atas gugatan pembatalan keputusan KPU yang dilayangkan penantangnya, pasangan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) dan parpol pengusungnya ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) Makassar.

Langkah ini dinilai pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Dr Jayadi Nas sebagai langkah yang keliru dari pasangan Appi-Cicu karena justru berpotensi menguntungkan pasangan Moh Ramadhan ‘Danny’ Pomanto-Indira Mulyasari Paramastuti (DIAmi).

Gugatan tersebut adalah bagian dari upaya Appi-Cicu untuk menjegal langkah DIAmi untuk maju bertarung di pesta demokrasi 27 Juni mendatang, sekaligus sebagai strategi untuk melemahkan posisi DIAmi.

“Praktek-praktek politik yang saling menjegal seperti itu adalah bagian dari strategi rival untuk melemahkan Danny. Tetapi strategi ini bisa jadi bumerang bagi Appi-Cicu ketika tidak dapat dibuktikan. Karena kecenderungan masyarakat pemilih itu selalu simpati terhadap calon yang dizalimi,” kata Jayadi yang juga mantan Ketua KPU Sulsel ini, Jumat (16/03/2018).

5. Di Era Danny, Masyarakat Tambah Bahagia

Berdasarkan riset Celebes Research Center, index of happiness atau indeks kebahagiaan masyarakat Kota Makassar terus menanjak sejak awal masa Danny Pomanto menjabat hingga hari ini.

Direktur Riset CRC, Andi Wahyuddin mengatakan pada riset akhir 2017 lalu indeks kebahagiaan masyarakat Makassar mencapai 76 persen. Setahun sebelumnya indeks kebahagiaan mencapai 75,21 persen.

“Sudah dua tahun kami melakukan riset kebijakan publik di Kota Makassar, dan hasilnya indeks kebahagiaan masyarakat konsisten selalu menanjak naik. Ini menandakan bahwa program-program Pak Danny selama menjabat berhasil menambah gairah hidup warga Kota Makassar,” ungkap Wahyuddin, Kamis (15/03/2018).

Berdasarkan data Bappeda Kota Makassar, pada awal masa jabatan Danny Pomanto, indeks kebahagiaan masyarakat Kota Makassar hanya mencapai 68% persen. Artinya ada kenaikan drastis sebesar 8 persen dalam rentang 4 tahun masa jabatan Danny Pomanto.

Secara detil, 10 indikator yang menyusun indeks kebahagiaan antara lain: aspek keharmonisan keluarga 85,86 persen, aspek hubungan sosial 79,40 persen, aspek ketersediaan waktu luang 77,18 persen, aspek keadaan lingkungan 76,78 persen.

Kemudian aspek kondisi perumahan dan aset 75,89 persen, aspek kesehatan 74,93 persen, aspek kondisi keamanan 74,78 persen, aspek pekerjaan 74,47 persen, aspek pendapatan rumah tangga 68,11 persen, dan aspek pendidikan 64,67 persen. (**)