Banner-DPRD
Pemerintahan

Wujudkan SRA, DPRD Makassar Dukung Sisi Regulasi dan Penganggaran

DSC00492

LIPUTAN8.COM, Makassar — Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Makassar, semakin massifkan program Sekelah Ramah Anak (SRA). Setelah sebelumnya menggagas komitmen bersama para kepala sekolah tingkat SD dan SMP se-Kota Makassar, kali ini DPPA meminta kesediaan para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait lingkup Pemerintah Kota Makassar bersama Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar, untuk menandatangani komitmen sebagai terwujudnya Sekolah Ramah Anak, di Gedung DPRD Kota Makassar, Selasa (10/10/2017).

Kepala Dinas PPPA Kota Makassar, Tenri A Palallo, mengatakan Sekolah Ramah Anak tersebut adalah program yang berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab di sekolah. SRA ini sebagai upaya menjadikan seluruh sekolah di Makassar sebagai sekolah ramah anak, baik tingkatan PAUD, TK,SD hingga SMP, agar setiap anak diberi perlindungan, termasuk memberi sarana dan fasilitas pendukung bagi anak.

“Sekolah Ramah Anak adalah sebuah program yang mendorong sekolah secara sadar berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab, agar anak yang ada di sekolah di beri perlindungan, termasuk sarana prasarana pendukung bagi anak. Selain itu, program SRA bukan hanya mampu memberi perlindungan kepada anak, tapi juga berkomitmen dengan menyediakan ruang dan sarana bagi anak,” terang mantan Tenri.

Mantan Kabag Humas Pemkot Makassar ini juga menambahkan, Sekolah Ramah Anak ini juga memberi hak terhadap anak, seperti penyediaan toilet wanita dan pria yang terpisah, tangga dan penyediaan pintu darurat jika terjadi bencana, termasuk kantin dan penyediaan makanan yang sehat.

Sementara, Wakil Walikota Makassar, Syamsu Rizal, juga menambahkan bahwa SRA merupakan komitmen Pemerintah Kota Makassar untuk mendukung program nasional, dalam rangka membangun kepribadian bangsa Indonesia.

“SRA ini bukan hanya dalam konteks aplikasi proses pembelajaran di bangku sekolah. Apalagi ini membangun kepribadian bangsa ini harus dimulai dari awal dan tidak boleh parsial. Harus semua unsur terlibat, mulai dari eksekutif legislatif dan semua pemangku kepentingan hingga komponen masyarakat,” terang pria yang akrab disapa Deng Ical ini.

Jadi di SRA bagaimana perlakuan lingkungan strategis pendidikan, sehingga semua potensi-potensi yang ada bisa tersalur dengan baik, dengan demikian diharapkan anak-anak kita bisa berkembang dengan maksimal. (Adt)

To Top