Aksi Curas di Makassar Meningkat, Tamalate dan Panakkukang Paling Rawan

LIPUTAN8.COM — Berdasarkan data dari Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) Makassar, angka
pencurian dengan menggunakan kekerasan (curas) yang terjadi di kota ini terus mengalami
peningkatan. Berdasarkan laporan yang masuk, aksi begal cukup mendominasi.

Kanit Idik I Reskrim Polrestabes Makassar Iptu Ismail, SH mengemukakan tahun 2016, laporan kasus
curas yang masuk ke Polrestabes Makassar sebanyak 480 kasus. Dari angka itu, 283 kasus berhasil
diungkap atau diselesaikan.

Sementara pada Januari 2017 ini, jumlah laporan yang masuk sebanyak 32 dan yang berhasil
diselesaikan 18 kasus. Februari 42 kasus, yang berhasil diungkap 19 kasus. Pada bulan Maret,
jumlah laporan yang masuk 31 kasus dan berhasik diungkap 22 kasus. Sementara pada bulan April,
jumlah laporan yang masuk cukup tinggi yakni 46 kasus dan berhasil diselesaikan 33 kasus.

“Dari laporan terkait kasus curas yang masuk ke Polrestabes, aksi begal mendominasi,” ungkapnya
dalam Dialog Interaktif yang digelar Pemuda Panca Marga (PPM) Sulsel di Kafe Masa Kini, Jalan
Pengayoman dengan tema Pemuda sebagai Pilar Utama Penanganan Begal.

Dari kasus yang dilaporkan, paling banyak terjadi di Kecamatan Panakkukang dan Tamalate.
Dia melanjutkan, umumnya kasus begal yang ditangani Polrestabes bervariasi dengan pelaku remaja
berusia 18 tahun ke bawah dan dewasa dengan usia 18 tahun ke atas.

Menurutnya, ada beberpa faktor yang menyebabkan seorang remaja melakukan aksi begal. Namun yang
paling dominan adalah faktor lingkungan tempatnya bergaul. Ada juga karena persoalan kebutuhan
ingin membeli atau memiliki sesuatu namun tidak memiliki uang, jalan paling mudah dengan
melakukan aksi begal.

Orang tua, guru dan keluarga dinilai punya peran paling strategis untuk mencegah seorang remaja
melakukan tindakan kriminalitas.

Menurutnya, sudah banyak program yang dilakukan kepolisian untuk mencegah remaja melakukan
tindakan yang bukan hanya membahayakan orang lain, namun juga dirinya sendiri. Mulai dari
melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah, rutin menggelar patroli gabungan dengan TNI, melakukan
Operasi Cipta Kondisi, melakukan razia, bahkan pengukuhan Binmas.

“Ke sekolah juga sering dilakukan. Hampir setiap Senin di sekolah-sekolah kami turunkan anggota
untuk bertindak sebagai inspektur upacara atau irup,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum PPM Sulsel Iqbal Suhaeb menjelaskan, penanganan begak di kalangab
remaja memang cukup dilematis karena disatu sisi jika dipidanakan masih kategori anak-anak
sementara jika tidak ditangani maksimal nanti dikira ada pembiaran.

Dia pun berharap anak muda, khususnya yang baru saja menyelesaikan SMA untuk mencari kegiatan
positif dibanding nongkrong yang tidak bermanfaat. Keluarga dinilai punya andil yang paling kuat
untuk membentuk karakter seorang remaja sehingga dipandang perlu untuk terus melakukan
pengawasan maupun membimbing para remaja yang dinilai sementara mencari identitas dirinya. (mri)