Pers Memiliki Peran Strategis dalam Menjaga Kerukunan Umat Beragama

LIPUTAN8.COM — Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Sulawesi Selatan menggelar Workshop Peningkatan Peran Jurnalis dalam Meningkatkan Kerukunan Umat Beragama.

Workshop tersebut digelar selama tiga hari, 6-8 Mei di Hotel Jolin Makassar melibatkan perwakilan dari berbagai media massa yang ada di Sulsel. Kegiatan dibuka Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulsel, Abdul Wahid Tahir.

Menurut Abdul Wahid, media atau pers memiliki peran strategis dalam menjaga kerukunan umat beragama. Berbagai informasi yang diramu di dapur redaksi menjadi sebuah berita bisa memberi pengaruh yang cukup besar dalam membentuk opini publik. Termasuk pemberitaan yang terkait dengan isu kerukunan antarumat beragama. Apalagi saat sekarang dimana isu sara menjadi perhatian publik.

Dia mengemukakan, sudut pandang dan penyajian dalam penulisan sebuah berita sangat menentukan persepsi atau pandangan masyarakat. Jika ditulis negatif, katanya juga bakal diterima dengan negatif. Demikian pula sebaliknya.

Wahid menyebutkan tiga hal yang baiknya dilakukan jurnalis dalam menyajikan isu-isu keagamaan, yakni klarifikasi, menghindari narasi multi tafsir dan tidak berbauh provokatif.

“Persoalan penistaan agama di Jakarta jangan berulang di Makassar, kita berharap di Makassar tidak muncul berita-berita yang dapat mencerai-berai kerukunan beragama,” pungkasnya.

Ketua Panitia sekaligus Kepala Sub Bagian Kanwil Kemenag Sulsel Amrullah mengaku workshop sekaligus dialog tersebut sengaja diselenggarakan melihat perkembangan bekalangan ini. Katanya peran jurnalis penting memegang kunci pembentukan opini publik.

“Media memiliki peran dalam bidang sosial dan politik, jurnalis memegang kunci opini publik sehingga sangat penting mengajak insan pers,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Sulsel Abdul Wahid mengatakan pentingnya menyusun narasi kerukunan, damai tenteram, aman untuk menciptakan kerukunan antarumat beragama.
Jurnalis ketika mendapat informasi terkait isu sara, sebaiknya melakukan kroscheck atau klarifikasi balik terkait kebenarannya. Apalagi jika menyangkut isu sangat sensitif yang bisa memecah belah persatuan dan kerukunan umat beragama.

“Kalau ada informasi terkait sebuah peristiwa yang diperkirakan bisa menimbulkan percikan api, diharapkan ada krocek atau tabayyun. Ini sangat penting untuk tetap menjaga situasi yang kondusif dalam bingkai NKRI,” pungkas Abdul Wahid. (Aji/Iqbal)