Penganiaya Guru SMKN 2 di Hukum 1 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: Kami Belum Siap Banding

LIPUTAN8.COM — Majelis Hakim Pengadilan Negeri Makassar, menjatuhkan vonis bersalah terhadap terdakwa, Adnan Ahmad. Dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap guru SMKN 2 Makassar, Muhammad Dasrul di Pengadilan Negeri Makassar, Kamis (5/1/2016).

Berdasarkan Barang bukti yang disita, oleh hakim Pengadilan Negeri Makassar berupa cincin batu, baju putih dengan bercak darah.

Terdakwa kata Majelis hakim yang diketuai oleh Ibrahim Palino menyebutkan dalam persidangan. Bila terdakwa sendiri yang mendatangi korban dan langsung melakukan pemukulan ke arah wajah korban dan mengenai bagian hidung korban, setelah mendapat telepon dari anaknya.

Hidung korban pun mengeluarkan darah setelah terkena cincin batu milik korban. Sehingga mengakibatkan korban mengalami luka berdarah pada bagian hidung, berdasarkan bukti hasil yang dilakukan korban beberapa waktu lalu.

Sehingga Majelis Hakim berpendapat bahwa luka yang dialami korban bukanlah luka berat, yang mengakibatkan korban mengalami cacat.

Namun Majelis Hakim berpendapat bila terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah tindak pidana kekerasan didepan umum, secara bersama-sama, yang mengakibatkan korban mengalami luka.

Ibrahim Palino dalam amar putusan menyatakan bila terdakwa terbukti melanggar pasal 170 ayat (1) karena tidak terbukti mengakibatkan korban mengalami luka berat.

“Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penganiayaan di depan dan ditempat umum secara bersama-sama,” tegas Ibrahim Palino.

Terdakwa dijatuhi hukuman pidana 1 tahun penjara, karena terbukti melanggar pasal 351 ayat (1) KUHP.  Usai membacakan putusan Ibrahim Palino mempersilahkan kepada terdakwa bila ingin mengajukan upaya banding, bila menolak atau tidak menerima putusan tersebut.

“Kita tunggu paling lambat 7 hari, bila ingin mengajukan banding,” tandasnya dihadapan terdakwa.

Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU), Sabri Salahuddin saat ditemui usai sidang. Mengaku masih akan mempertimbangkan putusan tersebut dan akan pikir-pikir.

“Kita masih pikir-pikir dulu, kita masih akan mempertimbangkannya untuk langkah selanjutnya,” cetusnya.

Namun dia tidak menampik, bila tidak menutup kemungkinan pihaknya akan mengajukan upaya banding atas putusan majelis hakim tersebut.

Hal senada juga diungkapkan oleh kuasa hukum terdakwa, pihaknya masih punya waktu 7 hari untuk pikir-pikir.

“Nantilah, kita akan coba koordinasikan dulu bersama tim yang lain, apakah akan mengajukan upaya banding atau tidak,” tukas kuasa hukum terdakwa, Syamsul. (**)