Unik… Promosikan Sulsel Dari Dalam Kontainer

LIPUTAN8.COM — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel melakukan promosi berbagai potensi yang dimiliki dari dalam kontainer.

Menggunakan empat kontainer yang diberi nama Pinisi Pop Up Gallery, berbagai kekayaan Sulsel mulai pariwisata, pertanian, perkebunan, tambang, dan lainnya, ditawarkan.

Phinisi Pop Up Galery terdiri dari tiga kontainer utama dan satu kontainer pendukung. Dengan komposisi, kontainer pertama, mempromosikan kuliner asal berbagai daerah yang ada di provinsi ini.

Kontainer kedua sebagai Container Sulsel On Screen, merupakan galeri seni dan budaya. Akan menampilkan foto-foto, video, dan pertunjukan seni budaya Sulsel. Kontainer ini juga bisa dijadikan panggung mini untuk pertunjukkan tari dan lainnya.

Kontainer ketiga atau Container Merchandise, menghadirkan pilihan cinderamata khas Sulsel dengan desain yang menarik. Sementara, satu kontainer lainnya merupakan pendukung, dijadikan sebagai dapur dan gudang,
Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Disbudpar Sulsel, Devo Khaddafi mengatakan untuk pembuatan Pinisi Pop Up Gallery ini, pihaknya mengeluarkan dana sebesar Rp200 juta. Proses pembuatan dan perakitannya dilakukan di Jakarta selama dua bulan.

“Latar belakang pemilihan nama Phinisi untuk kampanye pariwisata dengan pemikiran bahwa kapal PINISI sebagai masyarakat Sulawesi Selatan, bahkan ketangguhan kapal PlNISI ini sudah dikenal di manca negara,” jelasnya, saat ditemui di acara lounching, depan Benteng Fort Roterdam, Sabtu, 12 November.

Dijelaskannya, Pinisi Pop Up akan membawa potensi wisata Sulsel, seperti makanan dan minuman khas, budaya, mulai dari tarian, pakaian adat sampai rumah adat. Serta potensi sumber daya alam, melalui tampilan video dan gambar.
Sebagai langkah awal, pihaknya menempatkan Pinisi Pop Up Gallery selama 10 hari di Benteng Fort Roterdam, Jl Pasar Ikan.

“Setelah itu, kita akan lakukan evaluasi sebelum dikirim ke beberapa kota sebagai ajang promosi. Termasuk ke luar negeri, untuk mengikuti pameran atau festival wisata,” katanya.

Pemilihan media kontainer, menurut pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Syafruddin karena lebih mudah dipindahkan dan ditempatkan. Bahkan bisa dibawah ke luar daerah dengan mudah dan cepat.

Sebagai promosi, Disbudpar Sulsel menyiapkan marchandise atau souvenir khusus bagi pengunjung seperti miniatur tedong bonga, yang dibuat khusus sebanyak 50 buah. Patung yang merepresentasikan hewan khas Sulsel ini memiliki tanda tangan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo.

“Untuk harga satu buah berkisar Rp1 juta dan proses pembuatannya dilakukan di Bandung, dengan mengambil tema tedong bonga yang hanya ada di Sulsel, terutama di Tana Toraja. Dana hasil penjualan, sebagian akan dijadikan sumbangan sosial,” ungkapnya.

Selain miniatur tedong bonga, sovenir lainnya ada miniatur rumah adat tongkonan, pinisi, alat musik kecapi dan songko to bone, serta baju kaos bertemakan tentang Sulsel. Untuk kuliner, pihaknya menarwarkan beragam kue tradisional Sulsel dan kopi Toraja.

Meski proses peluncuruan Sabtu malam, sempat terhambat oleh guyuran hujan. Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo bersama beberapa jajaran pemerintahan melakukan seremoni kecil, dengan membuka pintu kontainer dan mencicipi beberapa sajian makanan.

Menurutnya, langkah ini merupakan wujud terobosan baru untuk menjual potensi Sulsel. Karena seperti diketahui selama ini promosi wisata hanya melalui pameran serta brosur dan iklan.

“Sehingga diperlukan inovasi baru yang langsung menyentuh masyarakat dan sangat efektif. Ini baru gambar yang dikirimkan, sudah ada duta besar yang memintanya, seperti di Singapura, Toronto (Kanada) dan New York (Amerika Serikat),” pungkasnya. (mri)