OPINI: Puasa, Zakat dan Solidaritas Sosial

Andi Muhammad Asbar, S.Pd.I, M.Pd.I

LIPUTAN8.COM – Salah satu hikmah ibadah puasa ialah penanaman rasa solidaritas sosial, dengan mudah hal itu dibuktikan dalam kenyataan bahwa ibadah puasa selalu disertai dengan anjuran untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya, terutama perbuatan baik dalam bentuk tindakan menolong meringankan beban kaum fakir miskin melalui zakat, sedekah, infaq, dll.

Dari sudut pandangan itulah kita harus melihat kewajiban membayar zakat fitrah pada bulan Ramadhan, terutama menjelang akhir bulan suci ini. Seperti diketahui, fithrah merupakan konsep kesucian asal pribadi manusia, yang memandang bahwa setiap individu dilahirkan dalam keadaan suci atau bersih.

Karena itu zakat fitrah merupakan kewajiban pribadi berdasarkan kesucian asalnya, namun memiliki konsekuensi sosial yang langsung dan jelas.

Sebab, seperti halnya dengan setiap zakat dan sedekah (shadaqah, secara etimologis berarti “tindakan kebenaran”) pertama-tama dan terutama diperuntukkan bagi golongan fakir-miskin serta mereka yang berada dalam kesulitan hidup seperti al-riqab (mereka yang terbelenggu, yakni, para budak; dalam istilah modern dapat berarti mereka yang terkungkung oleh kemiskinan struktural dan al-gharimun (mereka yang terbebani oleh hutang), serta ibn al-sabil (orang yang terlantar dalam perjalanan), demi usaha ikut meringankan beban hidup mereka.

Sasaran zakat yang lain pun masih berkaitan dengan kriteria bahwa zakat adalah untuk kepentingan umum atau sosial, seperti sasaran amil zakat sendiri, kaum mu’allaf, dan ibn al-sabil, kepentingan masyarakat dalam artian yang seluas-luasnya.
Sebenarnya dimensi sosial dari hikmah puasa ini sudah dapat ditarik dan difahami dari tujuannya sendiri dalam al-Qur’an, yaitu taqwa.
Taqwa sebagai tujuan puasa itu, Syeikh Muhammad Abduh menunjuk adanya kenyataan bahwa orang-orang kafir penyembah berhala melakukan puasa (menurut cara mereka masing-masing) dengan tujuan utama membujuk dewa-dewa agar jangan marah kepada mereka atau agar senang kepada mereka dan memihak mereka dalam urusan hidup mereka di dunia ini.

Ini sejalan dengan kepercayaan mereka bahwa dewa-dewa itu akan mudah dibujuk dengan jalan penyiksaan diri sendiri dan tindakan mematikan hasrat jasmani. Cara pandang kaum musyrik itu merupakan konsekuensi faham mereka tentang Tuhan sebagai yang harus didekati dengan sesajen, berupa makanan atau lainnya (termasuk manusia sendiri) yang “disajikan” kepada Tuhan.

Hal itu tentu berbeda dengan ajaran agama Tauhid yang mengajarkan manusia untuk tunduk dan patuh sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam agama ini diajarkan bahwa Tuhan tidaklah didekati dengan sesajen seperti pada kaum pagan atau musyrik, melainkan dengan amal perbuatan yang baik, yang membawa manfaat dan faedah kepada diri sendiri dan kepada sesama manusia dalam masyarakat; “Maka barangsiapa ingin berjumpa dengan Tuhannya, hendaknyalah ia berbuat baik, dan janganlah dalam berbakti kepada Tuhannya itu ia memperserikatkan-Nya dengan seseorang siapapun juga.” (QS. Al-Kahf/18:110).

Puasa yang mempunyai nilai pendekatan kepada Allah swt. bukanlah penderitaan lapar dan dahaga itu an sich, melainkan rasa taqwa yang tertanam melalui hidup penuh perihatin itu. Puasa adalah untuk kebaikan diri kita sendiri baik sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat yang lebih luas.

Seperti halnya dengan iman yang tidak dapat dipisahkan dari amal saleh, hubungan dengan Allah (hablum minallah) yang tidak dapat dipisahkan dari hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas), taqwa pun tidak dapat dipisahkan dari budi pekerti luhur (husn al-khuluq atau al-akhlaq al karimah).

Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat al-Tarmidzi dan al-Hakim; Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah swt. dan budi pekerti luhur.

Lebaran atau Idul Fitri (Id-al-fithr, “Siklus Fitrah”), yang menggambarkan tentang saat kembalinya fitrah atau kesucian asal manusia setelah hilang karena dosa selama setahun, dan setelah pensucian diri dosa itu melalui puasa.

Dalam praktik yang melembaga dan mapan sebagai adat kita semua, manifestasi dari lebaran itu ialah sikap dan perilaku kemanusiaan yang setulus-tulusnya dan setinggi-tingginya.

Dimulai dengan pembayaran zakat fitrah yang dibagikan kepada fakir miskin, diteruskan dengan bertemu sesama umat Islam di saat shalat Id, kemudian dikembangkan dalam perilaku terpuji bersilaturahmi kepada sanak keluarga dan teman sejawat, keseluruhan manifestasi lebaran itu menggambarkan dengan jelas aspek sosial dari hasil ibadah puasa. Bersyukur atas nikmat dan karunia yang merupakan hidayah Allah kepada kita itu maka pada hari Lebaran kita dianjurkan untuk memperlihatkan kebahagiaan dan kegembiraan kita.

Karena itu zakat fitrah sebenarnya lebih banyak sebagai peringatan simbolik tentang kewajiban atas anggota masyarakat untuk berbagi kebahagiaan dengan kaum yang kurang beruntung, yang terdiri dari para fakir miskin tadi. Dari segi jumlah dan jenis materialnya sendiri, zakat fitrah mungkin tidaklah begitu berarti.

Tetapi yang lebih asasi dalam zakat fitrah ialah maknanya sebagai lambing solidaritas sosial dan rasa perikemanusiaan. Selain itu, zakat fitrah adalah lambang tanggungjawab sosial kita yang merupakan hasil pendidikan ibadah puasa dan yang kita menifestasikan secara spontan.

Sebagai simbol dan lambang, zakat fitrah harus diberi substansi lebih lanjut dan lebih besar dalam seluruh aspek hidup kita sepanjang tahun, berupa komitmen batin serta usaha mewujudkan masyarakat yang lebih baik, yang berisi nilai keadilan sosial.

Penulis: Andi Muhammad Asbar, S.Pd.I, M.Pd.I
Dosen STAI Al-Gazali Bulukumba