2015, BPPPA Mencatat 1941 Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan

LIPUTAN8.COM – Kekerasan terhadap anak dan perempuan kian mengkhawatirkan. Data dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BPPPA) Sulsel, sepanjang tahun 2015, kekerasan terhadap anak dan perempuan mencapai 1941 kasus.

Kepala BPPPA Sulsel, Andi Murlina Muallim mengatakan, data tersebut adalah hitungan yang terlapor, namun masih banyak kasus yang tidak dilaporkan dan hanya terjadi lalu menguap di masyarakat.

“Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan itu ibarat gunung es. Lebih banyak yang tidak terlapor,” ungkap Murlina.

Dia melanjutkan, kasus yang terjadi selama ini merupakan kejahatan manusia.

Dia melanjutkan, untuk Januari hingga Mei 2016, kekerasan terhadap anak dan perempuan yang terlapor di BPPPA sebanyak 15 kasus. Kurang dari 45 hari, pada periode yang sama, tiga nyawa anak melayang di tangan orang tuanya sendiri.

“Termasuk kasus Kapasa dimana ayahnya yang menderita kelainan jiwa membunuh anaknya dengan memukul kepala korban menggunakan tabung elpiji,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak, Fadiah Mahmud mengatakan, menyikapi persoalan yang terjadi, deteksi dini perlu dioptimalkan. Bahkan jaringan pemerhati anak dan perempuan butuh diperkuat pada tingkat RT/RW sekalipun.

“Harus dilakukan penguatan kelembangaan di tingkat RT/RW. Melalui kampanye deteksi dini terus-menerus,” ungkapnya.

Ia mengaku telah membicarakan secara teknis dan mekanisme terkait persoalan ini ke pemerintah provinsi, kota, dan NGO. (mri/fma/liputan8)