Refleksi Dua Tahun DIA Memimpin Makassar (1)

SEJATINYA, dua tahun bukan waktu yang cukup untuk menilai hitam dan putih pemerintahan pasangan Moh Ramdhan “Danny” Pomanto-Syamsul Rizal (DIA). Tetapi ini tuntutan publik. DIA sudah harus memberi bukti. Nah, refleksi dua tahun ini adalah momentum untuk menakar apa saja yang sudah dilakukannya.

Untitled35

Visioner, pujian ini pernah disematkan wali kota se-ASEAN kepada Danny. Peduli, predikat ini juga disandang Danny, dari para tokoh lintas agama pada 2015 silam. Beberapa akademisi turut menyebut pria berlatar ahli rancang bangun ini dengan gelar lokomotif perubahan.

Lantas bagaimana Danny di mata banyak kalangan? Berbagai latar belakang memberi penilaian. Dari profesional, akademisi, politisi, mahasiswa, pedagang, sampai tukang bentor. Mereka punya perspektif berbeda tentang Danny di tahun keduanya. Seperti apa?

Di kalangan profesional cara kerja Danny dipandang tidak rumit. Rapi. Sistematik. Ini karena Danny berlatar seorang arsitek yang terbiasa bekerja dengan perencanaan matang.

“Beliau punya visi yang tajam. Hitung-hitungannya dalam pembangunan infrastruktur lebih cermat,” terang M Rahman, arsitek yang juga konsultan tata ruang.

bank-sampah

Rahman berpendapat, Danny terbiasa bekerja di bawah target. Itulah sebabnya, terlihat jelas bahwa dua tahun ia memimpin sudah nampak pondasi-pondasi besar yang ia tancapkan.

Bukan saja pada sektor infrastruktur, cara kerja terencana ini juga turut ia terapkan di semua bidang. Reformasi birakrasi misalnya, ia bangun dalam waktu setahun. Efektivitasnya bisa dirasakan, terutama di kalangan aparatur.

“Contoh reformasi birokrasi paling menonjol adalah lelang jabatan pada semua eselon. Ini terobosan luar biasa. Efektif dan sangat positif,” terang Rahman.

Dari perspektif para aktivis dan pegiat sosial, Danny dianggap figur yang berani melawan tirani politik. Di tahun kedua, sikapnya masih kukuh. Ia menolak menunjuk pejabat tidak kompeten.

Aktivis sosial dan kemasyarakatan, Ahmad S Randi mengatakan, Danny memberi pelajaran politik sehat kepada aparatur pemkot. Sejak pilihan Danny didasarkan pada kompetensi, aparat tidak lagi sibuk dalam kancah politik praktis.

Mereka berkompetisi dengan mutu untuk menduduki jabatan. Danny menurut dia, telah membuka ruang baru kepada PNS bahwa siapapun bisa jadi pejabat. Jabatan bukan lagi milik mereka yang dekat dengan sumbu kekuasaan.

WALIKOTA

“Pak Danny mengubah mindset kalau mau jadi pejabat ya harus pintar. Bukan pintar pendekatan. Tapi memang punya kompetensi. Ini yang dulu-dulu jarang kita jumpai,” katanya.

Perubahan yang lebih tampak di tahun kedua ini adalah keberhasilan menyuntik kultur perbadaban dunia kepada masyarakat Makassar. Ahmad mengatakan, peradaban kota dunia itu, terpola pada beberapa aspek utama. Diantaranya, kebersihan kota, keamanan, serta perbaikan ekonomi.

Selama lebih dari dua dekade Makassar tidak melakukan peremajaan armada sampah. Ini yang membuat distribusi dari permukiman tidak efektif berjalan.

Akhirnya tak genap setahun Danny mengambil langkah konkret dengan melakukan peremajaan puluhan truk pengangkut sampah. Selain secara kuantitas, sistem sirkulasi armada sampah dari permukiman ke tempat penampungan akhir juga dibuat lebih cepat.

Selanjutnya, keberadaan bank-bank sampah di kelurahan diefektifkan. Ini yang tidak terjadi di era-era sebelumnya. Dulu bank sampah hanya objek simbolik. Tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

“Sekarang baru efektif. Bank sampah menjadi wadah penampungan sementara yang mampu meng-cover lebih dari 80 persen produksi sampah di masyarakat,” jelas Andi Muh Mirwan, pemerhati lingkungan.

Tetapi perbaikan infrastruktur belum cukup. Sektor lingkungan itu kata Mirwan sangat kompleks. Keberadaan bank sampah dan truk yang memadai tidak berarti apa-apa tanpa diikuti oleh perubahan pola pikir masyarakat.

Danny kembali menemukan solusi bagaimana mengubah pola pikir publik. Ia menderek pembangunan dari lorong.

 

IMG-20160324-WA0018

“Menurut saya ini juga langkah cerdas. Kenapa? Karena lebih dari sepertiga penduduk Makassar itu bermukim di lorong, dan produksi sampah itu 60 persen dihasilkan dari lorong,” katanya.

Kalau masyarakat lorong bisa digugah kesadarannya, paling tidak kata Mirwan, akan mengurangi bobot masalah persampahan.

Mirwan memuji metode pembangunan masyarakat lorong yang dikembangkan. Dimana pola partisipatif publik lebih dititikberatkan.

Fase selanjutnya adalah Danny menemukan cara intim bergaul sebagaimana laiknya masyarakat dunia.

Pertama, meminimalisir kekerasan di masyarakat. Danny mengatakan, dalam setahun keamanan masyarakat semakin bisa dikendalikan. Semua kalangan dirangkul dan diajak bertanggung jawab terhadap lingkungan masing-masing.

“Inilah kunci dari partisipasi publik. Masyarakat kita ajak bertanggung jawab dalam menciptakan keamanan di lingkungannya masing-masing,” katanya.

foto-14-3109s1rv3pasee1t021tze

Yang sedang dirintis Danny sekarang adalah membendung keterbelakangan. Pola pikir maju masyarakat didesain dalam program yang simultan agar bisa berpikir lebih produktif.  (Andi Darwin)