Kasasi Amir Aco Dinilai Kadaluarsa

LIPUTAN8.COM – Memori kasasi yang diajukan tervonis mati kasus narkoba, Amiruddin bin Amin alias Amir Aco dinilai kadaluarsa. Itu lantaran pengajuan memori kasasi telah lewat dari batas waktu yang telah ditentukan.

Meski sudah kaduarsa, namum Pengadilan Negeri Makassar tetap akan menerima memori kasasi kasasi Amir Aco secara prosedural.

Diduga lambatnya memori kasasi Amir Aco berproses lantaran kesalahan kurir yang mengirim berkas ke Pengadilan Negeri Makassar. Juru bicara Pengadilan Negeri Makassar, Ibrahim Palino mengatakan, pihaknya baru mengetahui jika memori kasasi Amir Aco sudah dikirim.

“Ternyata sudah diterima Bagian Umum, tapi kan harus diproses dulu, sehingga tidak langsung tercatat di Bagian Kepaniteraan,” ujar Ibrahim Palino..

Berkas baru dikirim pada saat batas waktu terakhir pengajuan memori kasasi.

“Tidak mungkin Amir Aco yang bawa sendiri memori kasasinya karena dia lagi ditahan. Memori kasasi itu masuk tanggal 10 Februari, tapi agak lama berproses sehingga baru belakangan masuk ke bagian kepaniteraan,” jelas Ibrahim.

Menurut Ibrahim, pihaknya tetap menerima dan memproses memori kasasi Amir Aco untuk dikirim ke Mahkamah Agung.
“Kesalahan bukan pada terdakwa,” tukasnya.

Pengadilan, kata Ibrahim, masih menunggu sikap kejaksaan soal memori kasasi Amir Aco. “Kejaksaan tidak wajib mengajukan kontra kasasi, tapi kita masih tunggu sikapnya,” pungkas Ibrahim.

Terpisah, Kepala Kejaksaan Negeri Makassar, Deddy Suwardy Surachman menyatakan, pihaknya telah mempersiapkan kontra kasasi terhadap upaya hukum yang ditempuh Amir Aco. “Kontra kasasinya sementara kita susun,” kata Deddy.

Dia menguraikan, Kejaksaan akan berusaha agar Amir Aco tetap dihukum sesuai vonis di Pengadilan Negeri Makassar. Terkait eksekusi atas vonis tersebut, kata Deddy, tinggal menunggu upaya hukum dari tervonis.

Diketahui Amir Aco divonis hukuman mati di Pengadilan Negeri Makassar pada Agustus lalu. Putusan ini diperkuat oleh Pengadilan Tinggi Makassar. Amir divonis bersalah menguasai sabu seberat 1 kilogram dan 4.208 butir ekstasi.

Hakim menilai hukuman mati wajar diberikan karena perbuatannya telah berulang kali. Bahkan Amir Aco telah tiga kali divonis bersalah dalam kasus narkoba di Kalimantan. (rmm/fma)