NH dan Yorrys Tampil Bareng di Acara Diskusi “Pecah Belah Partai Golkar”

LIPUTAN8.COM – Konflik Partai Golkar yang masih berlangsung membuat dua elite kubu Partai Golkar duduk bersama membahas perpecahan partai. Momen yang jarang terjadi ini berlangsung dalam sebuah acara bedah buku.

Kegiatan itu digelar di Gedung Pola Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta, Sabtu (12/9). Buku yang dibedah berjudul ‘Pecah Belah Partai Golkar’ yang ditulis Andi Harianto Sinulingga.

Wakil ketua umum dari dua kubu yang kerap bersitegang selama konflik partai pada masa awal-awal duduk bersebelahan untuk mendiskusikan buku, yaitu Yorrys Raweyai dan Nurdin Halid. Di sampingnya turut menjadi pembicara, Fahmi Idris dan dua pengamat Golkar

Tokoh lain yang hadir dari kubu hasil Munas Ancol yaitu: Wakil Ketua umum Agus Gumiwang, Ketua DPP Leo Nababan, Sekretaris Fraksi DPR Fayakun dan lainnya. Sementara dari kubu Munas Bali hadir selain Nurdin, Rambe Kamarul Zaman dan lainnya. Termasuk beberapa DPD I.

Dalam paparan awal, Fahmi Idris mengatakan bahwa Partai Golkar dalam sejarahnya tidak pernah mengalami perpecahan, melainkan hanya perpisahan. Golkar melahirkan Hanura, Gerindra, NasDem, dan lainnya. Tapi saat ini ada dua kubu dalam satu partai dari dua Munas berbeda.

“Di sini sudah kumpul potensi ketua umum Golkar yang mampu. Kalau terjadi perbedaan, bermusyawarah dengan baik,” kata Fahmi.

Diskusi itu berlangsung cair dan penuh tawa, terutama kelakar soal sejarah Golkar hingga akhirnya terbentuk dua kubu. Tak terkecuali guyonan antara Nurdin Halid dengan Yorrys Raweyai yang keduanya sudah lama di Golkar.

“Waktu itu Nurdin minta saya menekan agar Idrus jadi ketua umum KNPI, saya bilang Idrus sudah lebih umurnya,” ungkap Yorrys menceritakan kedekatan dengan Nurdin saat dulu.

Sementara Nurdin Halid mengatakan bahwa Partai Golkar tidak pecah belah, karena makna ‘pecah belah’ bisa berarti hancur-hancuran. “Golkar sampai hari ini tidak hancur, buktiknya dalam 10 hari efektif saya bersama Yorrys bersama 8 orang (elit Golkar) lain bisa mengikutkan 238 calon di Pilkada,” ujar Nurdin.

“Menurut saya tidak ada persatuan tanpa perbedaan, tidak ada persatuan tanpa konflik,” tegas Nurdin. (dtk)